News Fatigue Jadi Penyebab Orang Hindari Informasi

Rabu, 10 Juni 2026 | 00:27:31 WIB
Ilustrasi Pembaca berita di berbagai negara mengalami kelelahan mental akibat paparan informasi berlebihan.

JAKARTA - Banyak orang memilih untuk tidak mengikuti perkembangan berita terbaru bukan karena kurangnya literasi atau ketidakpedulian, melainkan karena kondisi yang dikenal sebagai news fatigue atau kelelahan mental akibat paparan informasi yang berlebihan.

Berdasarkan laporan 2025 Digital News Report dari Reuters Institute, fenomena ini terjadi dalam skala yang cukup besar di berbagai negara. Sekitar 40 persen responden mengaku terkadang atau sering menghindari berita, angka tertinggi yang pernah tercatat.

Tingkat penghindaran berita tertinggi ditemukan di Bulgaria, Turki, Kroasia, dan Yunani, sementara angka terendah berada di negara-negara Nordik, Taiwan, hingga Jepang. Perbedaan ini menunjukkan adanya variasi besar dalam cara masyarakat merespons konsumsi informasi.

Dari perspektif psikologi, salah satu faktor utama adalah negativity bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih fokus pada pengalaman atau informasi negatif dibandingkan yang positif.

Kecenderungan ini berkembang secara evolusioner sebagai mekanisme bertahan hidup, di mana manusia purba harus lebih waspada terhadap ancaman. Dampaknya masih terasa hingga saat ini, termasuk dalam cara manusia memproses berita.

Dalam konteks modern, bias tersebut membuat berita negatif lebih mudah menarik perhatian dan sering dianggap lebih relevan atau kredibel dibandingkan informasi positif.

Namun, paparan terus-menerus terhadap berita negatif dapat memicu kelelahan mental, sehingga sebagian orang memilih menghindarinya sebagai bentuk perlindungan diri.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Health Communication (2024) menunjukkan bahwa berita negatif dapat memicu respons fisiologis yang lebih kuat dibandingkan berita positif, bahkan sebelum seseorang secara sadar memprosesnya.

Studi lain juga mengidentifikasi adanya problematic news consumption (PNC), yaitu pola konsumsi berita yang berlebihan hingga mengganggu fungsi sehari-hari. Sebanyak 17 persen partisipan dalam studi tersebut menunjukkan tingkat PNC yang tinggi.

Dari kelompok tersebut, mayoritas melaporkan kondisi kesehatan yang menurun akibat paparan berita yang berlebihan, menandakan dampak nyata terhadap kesejahteraan mental dan fisik.

Para peneliti menegaskan bahwa solusi bukanlah menghindari berita sepenuhnya, melainkan mengatur pola konsumsi informasi secara lebih terkontrol dan selektif.

Pengaturan tersebut dapat dilakukan dengan membatasi waktu membaca berita, memilih sumber yang kredibel, serta menghindari konten provokatif yang hanya bertujuan meningkatkan interaksi.

Dengan pendekatan yang lebih terarah, hubungan seseorang dengan berita dapat menjadi lebih sehat tanpa kehilangan akses terhadap informasi penting.

Terkini