Risiko Demensia Menurun pada Lansia yang Memasak

Rabu, 10 Juni 2026 | 00:30:32 WIB
Lansia yang rutin memasak memiliki risiko demensia lebih rendah menurut penelitian Jepang.

JAKARTA - Aktivitas memasak secara rutin ternyata dapat memberikan manfaat bagi kesehatan otak pada usia lanjut. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa lansia yang masih aktif memasak memiliki risiko mengalami demensia lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang melakukan aktivitas tersebut.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology & Community Health. Penelitian menggunakan data lebih dari 10.000 warga Jepang berusia 65 tahun ke atas yang mengikuti proyek Japan Gerontological Evaluation Study (JAGES) selama kurang lebih enam tahun.

Peneliti menganalisis hubungan antara frekuensi memasak, kemampuan memasak, dan risiko demensia. Frekuensi memasak diukur berdasarkan seberapa sering seseorang menyiapkan makanan sendiri, bukan mengonsumsi makanan siap saji atau makanan yang telah disiapkan sebelumnya.

Selain frekuensi, penelitian juga menilai keterampilan memasak peserta melalui berbagai kemampuan dasar, mulai dari mengupas buah, merebus sayuran, hingga memanggang ikan.

Hasil studi menunjukkan bahwa lansia yang memasak setidaknya satu kali dalam seminggu memiliki risiko demensia sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan kelompok yang memasak kurang dari satu kali dalam seminggu.

Hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan berbagai faktor lain, seperti usia, tingkat pendidikan, pendapatan, serta kondisi kesehatan awal para peserta.

Menariknya, manfaat yang lebih besar ditemukan pada kelompok lansia dengan kemampuan memasak yang relatif rendah. Pada kelompok ini, kebiasaan memasak setidaknya sekali dalam seminggu dikaitkan dengan risiko demensia sekitar 70 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang memasak.

Peneliti menjelaskan bahwa memasak bukan sekadar aktivitas menyiapkan makanan. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai fungsi kognitif, seperti perencanaan, pengambilan keputusan, mengingat bahan makanan, hingga koordinasi aktivitas fisik.

Selain memberikan stimulasi mental, memasak juga dapat melibatkan interaksi sosial ketika dilakukan bersama pasangan, keluarga, atau teman. Faktor-faktor tersebut diyakini berkontribusi dalam menjaga kesehatan mental dan fungsi kognitif pada usia lanjut.

Meski hasil penelitian menunjukkan temuan yang menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional sehingga belum dapat membuktikan hubungan sebab akibat secara langsung antara aktivitas memasak dan penurunan risiko demensia.

Selain itu, penelitian dilakukan pada populasi lansia di Jepang sehingga hasilnya masih memerlukan kajian lebih lanjut untuk diterapkan pada masyarakat dengan budaya dan kebiasaan yang berbeda.

Terkini