JAKARTA - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang terus memperkuat perannya sebagai penggerak pertumbuhan industri nasional.
Selain agresif menarik investor di sektor manufaktur dan logistik, kawasan ini kini mengedepankan pembangunan inklusif yang memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar. Salah satu inisiatif strategis yang dijalankan adalah program "Orang Tua Asuh Desa".
Melalui program tersebut, KEK Industropolis Batang memberikan pelatihan berbasis Sustainable Livelihood Approach (SLA) dan Participatory Rural Appraisal (PRA) kepada perangkat desa di enam desa penyangga.
Pelatihan ini membekali perangkat desa dengan kemampuan memetakan aset, menganalisis dampak industri, hingga menyusun perencanaan pembangunan berbasis data yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Desa.
"Keberhasilan programnya mencerminkan visi jangka panjang yang menempatkan keharmonisan sosial sebagai dasar pertumbuhan industri," ujar Kepala Divisi Corporate Secretary KEK Industropolis Batang, M. Burhan Murtaki, Jumat (12/6/2026).
Sinergi antara program CSR dengan perencanaan pembangunan desa seperti RKP Desa dan RPJM Desa diharapkan dapat meminimalkan potensi konflik sosial serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap aktivitas investasi di kawasan tersebut.
Ketua Umum Yayasan Kepak Sayapku, AJ Boesra, menambahkan bahwa pendekatan berbasis data ini membantu masyarakat memahami dampak industri secara objektif melalui dialog yang konstruktif. Keberhasilan integrasi prinsip keberlanjutan dan ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam operasional kawasan ini dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas investasi yang aman bagi pemerintah, masyarakat, maupun investor.