JAKARTA - PT Bank DBS Indonesia membukukan perolehan laba setelah pajak atau Net Profit After Tax (NPAT) dari layanan DBS Treasures yang melonjak tajam hingga 289 persen secara tahunan. Pencapaian performa tersebut sukses melampaui target anggaran awal sebesar 157 persen.
Consumer Banking Director Bank DBS Indonesia Melfrida Gultom mengutarakan bahwa lompatan ini berjalan selaras dengan adanya perluasan jumlah nasabah baru sebesar 73 persen (year on year/YoY).
“Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat perubahan perilaku nasabah affluent yang semakin signifikan terutama pada kondisi pasar yang dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik dan volatilitas global,” katanya dalam media luncheon, di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Keadaan tersebut, sambungnya, menjadi fokus perhatian utama bagi pihaknya demi mengedepankan taktik pengelolaan kekayaan atau wealth management yang bertumpu pada wawasan objektif.
Pada periode tahun 2026 ini, Bank DBS Indonesia menerapkan tiga pilar strategi prioritas. Pertama, korporasi memprioritaskan pendekatan berbasis wawasan (insights-driven) dengan memprioritaskan CIO terbaik di Asia, strategi personal sesuai dengan aspirasi, serta kelengkapan akses digital 24/7.
Kedua, memperkokoh jalinan konektivitas berskala regional di kawasan Asia (globally-connected). Melfrida menggarisbawahi bahwa lini DBS mempunyai jaringan yang kokoh pada enam pasar utama di Asia, yaitu Singapura, Hong Kong, China, Taiwan, Indonesia, serta India.
“Ini menjadi kesempatan bagi nasabah-nasabah kami yang bukan berarti dia hanya orang Indonesia saja, karena kami lihat di nasabah-nasabah kami juga ada orang asing. Jadi mereka bisa connect dengan market kami yang lain,” ucapnya.
Ketiga, pola pendekatan yang menurutnya dinilai sangat fundamental yakni landasan kepercayaan (trusted), khususnya dalam menghadapi situasi perekonomian yang sedang bergulir saat ini. Ia meyakinkan, DBS telah diakui oleh bermacam institusi dunia atas ketahanan finansial serta kepiawaian mengarahkan pengelolaan aset.
Pada momentum yang sama, Head of Investment & Insurance Product Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo memandang periode 2025 merupakan fase yang sarat tantangan bagi pasar global lantaran tingginya faktor ketidakpastian, fluktuasi suku bunga, dan iklim kompetisi yang kian ketat.
“Memasuki paruh kedua 2026, volatilitas diperkirakan tetap tinggi, tetapi peluang strategis masih terbuka bagi investor berorientasi jangka panjang. Dalam kondisi pasar yang kompleks ini, CIO Office DBS mengedepankan pendekatan conviction-led yang berfokus pada strategi diversifikasi investasi yang jelas dan dapat ditindaklanjuti,” tegasnya.
Djoko memaparkan, salah satu haluan utama investasi dari unit CIO Office DBS ialah menjaga posisi overweight pada komoditas emas sebagai pilihan instrumen defensif.
Sementara itu, Head of Consumer Banking Segment & Liabilities Product Bank DBS Indonesia Natalina Syabana mengemukakan jika pihaknya berkonsentrasi penuh pada ceruk pasar wealth management sebab areanya sangat potensial dan menjadi salah satu titik kekuatan bagi DBS.
“Yang mana DBS itu kan memang terkenalnya adalah kami bagus dalam memberikan insight-insight terutama dalam investasi, tentang wealth management,” bebernya.