Dokter Jelaskan Potensi Mata Normal Permanen Setelah Operasi LASIK

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:06:31 WIB
Dokter Konsultan Spesialis Mata dr. Ucok P. Pasaribu, Sp.M (K) dalam Media Gathering bersama Mayapada Eye Centre (MEC), di Jakarta Pusat, Sabtu (20/6/2026).

JAKARTA - Banyak orang dengan kondisi mata minus menaruh ketertarikan tinggi untuk menjalani tindakan laser vision correction seperti prosedur LASIK atau SMILE Pro demi terbebas dari penggunaan kacamata serta lensa kontak.

Prosedur medis ini memang terbukti andal dalam memperbaiki gangguan refraksi pencahayaan sekaligus mengembalikan ketajaman fungsi penglihatan pasien agar menjadi jauh lebih jernih.

Dokter Konsultan Spesialis Mata Mayapada Eye Centre (MEC), dr. Ucok P. Pasaribu, Sp.M (K) menyatakan, operasi laser pada dasarnya bertujuan mengembalikan kondisi mata ke keadaan yang ideal.

Meski demikian, dirinya memaparkan bahwa tindakan medis modern tersebut tidak serta-merta menghentikan proses penuaan biologis alami yang dipastikan melanda organ mata seiring bertambahnya usia.

Menurut penjelasan dr. Ucok, baik prosedur SMILE Pro maupun LASIK dirancang khusus untuk memperbaiki kelainan refraksi seperti rabun jauh, silinder, serta kondisi tertentu yang memicu penglihatan tidak optimal.

“Laser vision correction baik melalui SMILE Pro ataupun lasik itu hanya me-restart ke kondisi ideal mata. Kondisi yang bisa kami capai dari tindakan tersebut adalah netral,” tutur dr. Ucok dalam Media Gathering bersama Mayapada Eye Centre (MEC), di Jakarta Pusat, Sabtu (20/6/2026).

Tindakan pembedahan laser tersebut bukan didesain untuk membuat organ mata menjadi kebal terhadap berbagai variasi perubahan fisik di masa depan.

Sistem kerja laser vision correction berfokus mengoreksi gangguan penglihatan yang ada saat prosedur dilangsungkan agar pasien dapat melihat normal tanpa alat bantu.

Dr. Ucok menegaskan, pascaoperasi dilakukan, perkembangan kondisi kesehatan mata seseorang akan tetap dipengaruhi oleh kompilasi faktor usia, kebiasaan, hingga gaya hidup harian.

“Setelah itu, kondisi mata yang dikoreksi bisa saja terjadi penuaan atau penambahan minus tergantung kebiasaan dan gaya hidup,” ujarnya.

Walaupun ketajaman melihat sudah diperbaiki hingga mendekati normal, proses biologis di dalam tubuh manusia akan tetap berjalan secara alami.

Mata, sebagaimana organ tubuh lainnya, dipastikan bakal terus mengalami fase perubahan struktural seiring dengan bertambahnya usia seseorang.

Dr. Ucok menguraikan, pasien yang telah sukses menjalani operasi laser tetap memiliki potensi mengalami gangguan penglihatan baru yang berkaitan dengan faktor penuaan.

Salah satu tantangan tersebut adalah presbiopia atau rabun dekat yang umumnya mulai dirasakan keluhannya secara nyata ketika seseorang memasuki usia 40 tahun.

“Di usia 40 tahun, pasien bisa ketemu mata plus lagi. Mereka tambah umur, maka bisa ketemu katarak juga. Maka, itu proses natural saja meski sudah dinetralkan,” ungkap dia.

Munculnya kondisi tersebut bukan menjadi indikator bahwa tindakan operasi laser yang diimplementasikan sebelumnya dinilai gagal.

Sebaliknya, perubahan fungsi penglihatan yang muncul merupakan bagian murni dari proses penuaan alami yang bisa menyerang siapa saja, termasuk mereka yang bermata normal sejak lahir.

Selain ancaman rabun dekat, risiko kemunculan penyakit katarak juga terpantau merangkak naik berbanding lurus dengan pertambahan usia pasien.

Oleh karena itu, pelaksanaan pemeriksaan mata secara berkala ke dokter spesialis tetap memegang peranan penting meskipun seseorang pernah mengambil prosedur koreksi laser.

Salah satu pemicu utama mengapa banyak masyarakat merasa kemampuan melihatnya mendadak memburuk adalah karena proses perubahan tersebut berjalan sangat perlahan.

“Kemampuan melihat dekat kami pelan-pelan berkurang, dan itu bisa dirasa. Kecuali kalau di awal-awal 40-an terus diabaikan dan merasa masih mampu,” ucap dr. Ucok.

Penurunan fungsi akomodasi untuk melihat objek dalam jarak dekat ini biasanya berprogres secara bertahap dari waktu ke waktu.

Pada fase awal, sebagian besar pasien dirasa masih sanggup beradaptasi sehingga tidak langsung menyadari adanya penurunan fungsional pada mata mereka.

Namun, saat daya akomodasi lensa mata semakin melemah, keluhan klinis akan mulai mengganggu aktivitas rutin, seperti membaca buku atau menatap layar ponsel.

“Alhasil sampailah di suatu titik, di usia tertentu, pasien akan merasakan perubahan yang signifikan. Di situlah baru banyak orang khawatir, padahal prosesnya sudah berlangsung lama,” kata dr. Ucok.

Masyarakat luas perlu mengedukasi diri bahwa operasi laser bukanlah sebuah metode instan untuk menghentikan siklus penuaan alami pada mata.

Prosedur ini sekadar memperbaiki gangguan penglihatan saat tindakan medis berjalan, sementara degradasi fungsi akibat faktor usia tetap menjadi perjalanan biologis yang lumrah.

Terkini