JAKARTA - Beban pekerjaan dengan durasi panjang ternyata memiliki kaitan erat dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan, terutama obesitas dan stres.
Di tengah tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi, banyak orang kesulitan menyediakan waktu untuk beristirahat, memilih makanan sehat, maupun melakukan aktivitas fisik.
Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa pengurangan jam kerja tahunan dalam jumlah kecil saja dapat memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan tubuh.
Penelitian yang dipresentasikan dalam European Congress on Obesity (ECO 2026) pada Mei 2026 mengungkap bahwa pengurangan waktu kerja tahunan sebesar satu persen dapat membantu menekan angka obesitas hingga 0,16 persen.
"Jam kerja yang lebih lama menciptakan kendala waktu yang dapat mengarah pada pilihan makanan yang tidak sehat dan berkurangnya aktivitas fisik," ungkap para peneliti secara tertulis.
Para peneliti juga menjelaskan bahwa tekanan akibat pekerjaan tidak hanya berdampak pada kondisi mental, tetapi juga dapat memengaruhi kebiasaan makan.
"Hal tersebut turut berkontribusi pada makan terkait stres dan peningkatan kadar kortisol. Keduanya terkait dengan penambahan berat badan," tambah mereka.
Dampak Pengurangan Jam Kerja terhadap Kesehatan
Memiliki waktu yang lebih seimbang antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat membantu seseorang memperhatikan pola hidup.
Ketika jadwal kerja lebih longgar, seseorang memiliki kesempatan lebih besar untuk mengatur asupan makanan, menjaga pola tidur, serta meningkatkan aktivitas olahraga.
Penulis utama penelitian, Dr. Pradeepa Korale-Gedara, menjelaskan kepada The Guardian bahwa keseimbangan aktivitas memiliki peran penting dalam menciptakan kehidupan yang lebih sehat.
"Ketika orang memiliki kehidupan yang lebih seimbang, mereka memiliki kehidupan yang lebih baik," ucap Korale-Gedara.
"Mereka memiliki lebih sedikit stres, mereka dapat fokus pada makanan yang lebih bergizi, dan terlibat dalam lebih banyak aktivitas fisik," lanjut dia.
Kelelahan Kerja Memicu Pilihan Makanan Kurang Sehat
Selain mengurangi waktu luang, pekerjaan berlebihan juga dapat menguras energi sehingga seseorang kehilangan motivasi untuk menyiapkan makanan sendiri.
Kondisi lelah setelah bekerja sering membuat makanan cepat saji atau makanan kemasan menjadi pilihan yang lebih mudah.
Psikolog University of Reading, Dr. Rita Fontinha, yang bekerja sama dengan pemerintah Portugal dalam riset sistem kerja empat hari, menyoroti dampak kebiasaan tersebut.
"Jika kamu bekerja di dua pekerjaan atau berjam-jam, kamu sama sekali tidak memiliki energi untuk memasak, dan menjadi lebih mudah untuk hanya membeli sesuatu yang dikemas atau diproses," kata dia.
Menurutnya, efisiensi waktu kerja dapat menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki pola hidup.
Sistem kerja empat hari maupun bentuk pengurangan jam kerja lainnya dinilai dapat mendukung pilihan makanan yang lebih baik, peningkatan aktivitas fisik, dan kualitas tidur.
Dorongan Mengubah Sistem Kerja Menjadi Empat Hari
Berbagai hasil penelitian tersebut mendorong sejumlah pihak di Inggris untuk mempertimbangkan perubahan pola kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan kesehatan masyarakat.
Sistem kerja tradisional yang sudah berjalan lama dinilai perlu dievaluasi kembali agar lebih selaras dengan kondisi kehidupan modern.
Manajer kampanye 4 Day Week Foundation, James Reeves, menyebut bahwa penerapan kerja empat hari dengan gaji penuh dapat membantu mengurangi tingkat obesitas.
"Ini memberi jutaan orang waktu yang mereka butuhkan untuk membuang kebiasaan buruk dan membuat pilihan yang lebih sehat," ungkap Reeves.