Tips Parenting dan 5 Cara Kontrol Emosi Anak ADHD agar Tenang

Senin, 29 Juni 2026 | 22:53:31 WIB
Ilustrasi Anak Mengidap ADHD.

JAKARTA - Anak-anak yang tumbuh dengan kondisi attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) tidak hanya dihadapkan pada hambatan dalam memusatkan atensi atau mengendalikan pola perilakunya saja.

Banyak di antara anak ADHD yang juga sangat rentan mengalami letupan emosi hebat, seperti mendadak berang, didera frustrasi, dirundung sedih, hingga menangis secara tiba-tiba.

Lantas, bagaimana cara mengontrol emosi anak ADHD?

Situasi emosional yang fluktuatif tersebut kerap kali memicu rasa bingung di kalangan orang tua dalam menyikapi pergeseran suasana hati sang buah hati.

Padahal, problematika berupa kesulitan dalam meregulasi perasaan ini merupakan salah satu bentuk tantangan yang tergolong lumrah dijumpai pada anak penyandang ADHD.

Terlebih lagi, anak-anak dengan diagnosa kondisi ADHD pada umumnya membutuhkan usaha yang lebih keras untuk bisa menenangkan diri mereka sendiri.

Dampaknya, Anda selaku orang tua memerlukan durasi waktu yang relatif agak lama guna meredakan ketegangan psikologis yang sedang melanda si kecil.

Oleh sebab itu, para orang tua dipandang perlu membekali diri dengan pemahaman tentang tata laksana perlakuan yang tepat demi menuntun anak mengenali sekaligus mengendalikan emosinya.

Menyadur rilis informasi dari laman Raising Children Network, terdapat beberapa strategi mengontrol emosi anak ADHD yang dapat Anda praktikkan di lingkungan rumah.

Langkah perdana yang krusial untuk dieksekusi adalah mendampingi anak agar mampu mendeteksi jenis emosi yang tengah berkecamuk di dalam dirinya.

Banyak anak dengan ADHD kedapatan diselimuti rasa dongkol, pilu, ataupun kecewa tanpa benar-benar sanggup mencerna apa yang sesungguhnya sedang menimpa diri mereka.

Anda dapat mengawali proses pengenalan emosi ini lewat media aktivitas yang simpel, semisal membaca buku dongeng bersama, menonton tayangan televisi, ataupun saat mengamati pola interaksi orang di sekitar.

Apabila sang anak sudah terbiasa diperkenalkan dengan aneka ragam jenis perasaan, maka proses pemahaman terhadap gejolak emosi mereka sendiri pun akan berjalan menjadi jauh lebih mudah.

Selain melatih kepekaan rasa, anak-anak juga perlu dibimbing untuk memahami bahwa setiap letupan emosi pada umumnya akan memicu lahirnya sensasi fisik tertentu pada anggota tubuh.

Cobalah berikan pemahaman yang logis kepada anak bahwa:

Saat gugup, perut bisa terasa tidak nyaman.

Saat takut, jantung dapat berdebar lebih cepat.

Saat marah, wajah terasa panas atau tangan mengepal tanpa sadar.

Apabila buah hati Anda sukses mengidentifikasi sinyal-sinyal fisik tersebut, mereka dipastikan bakal lebih sigap dalam menyadari kehadiran emosinya sebelum perasaan itu terlanjur meledak keluar.

Anak dengan gangguan ADHD biasanya menemui jalan buntu ketika diminta untuk memaparkan apa yang sedang bergolak di dalam batinnya.

Atas dasar itu, kehadiran orang tua sangat dibutuhkan untuk menjembatani mereka dalam mengurai dan mendefinisikan emosi tersebut secara bertahap.

Anda dapat memulai fondasi ini dengan melatih identifikasi ragam emosi yang sifatnya mendasar terlebih dahulu, seperti rasa riang, takut, sedih, ataupun amarah.

Setelah fase dasar tersebut berhasil dikuasai, barulah perkenalkan mereka pada spektrum emosi yang setingkat lebih kompleks seperti rasa malu, kecewa, cemburu, hingga frustrasi.

Metode berikutnya untuk mengontrol stabilitas perasaan anak ADHD adalah dengan menyusun daftar inventarisasi aktivitas positif yang berkhasiat memicu ketenangan.

Esensinya, di kala tensi emosi anak mulai merangkak naik, dirinya diarahkan untuk mengalihkan energi tersebut ke saluran yang lebih sehat demi meredakan diri.

Anda dapat mengompilasikan rentetan opsi kegiatan yang bebas dipilih oleh anak, di antaranya meliputi:

istirahat sejenak,

minum air putih,

berjalan kaki,

berlari,

mendengarkan musik,

membaca buku,

duduk di tempat yang tenang.

Lembar daftar panduan aktivitas tersebut dapat Anda tempel di sudut ruangan rumah yang sekiranya mudah tertangkap oleh pandangan mata.

Melalui langkah ini, si kecil diharapkan memiliki alternatif pilihan yang terarah dan jelas untuk menenangkan sistem sarafnya tatkala emosinya mulai terasa bergejolak.

Anak-anak, termasuk mereka yang menyandang kondisi ADHD, menyerap banyak sekali pelajaran hidup dengan cara merekam dan meniru apa saja yang dipraktikkan oleh orang tua mereka.

Oleh karena itu, metodologi yang Anda gunakan dalam mengelola emosi pribadi secara otomatis akan ikut mewarnai corak perilaku sang anak.

Ketika anak sedang didera ledakan emosi hebat yang berpotensi memantik rasa jengkel di hati Anda, usahakanlah untuk memprioritaskan ketenangan diri Anda sendiri terlebih dahulu.

Sangat dilarang keras membalas luapan amarah anak dengan layangan bentakan keras ataupun balasan emosi negatif yang sejenis.

Begitu situasi dirasa sudah mulai mencair dan kondusif, ajaklah anak untuk duduk bersama dan mendiskusikan kronologi peristiwa yang baru saja dilewati.

Model pendekatan persuasif ini akan melatih anak untuk memahami bahwa setiap jengkal emosi sejatinya tetap bisa dikendalikan dengan cara yang jauh lebih damai.

Itulah sekelumit teknik mengontrol emosi anak ADHD yang bisa Anda uji coba di dalam ruang domestik keluarga sehari-hari. Semoga ulasan ini memberikan manfaat nyata!

Terkini