BBRI Pacu Kredit Produktif dengan KUR Capai Rp84,36 Triliun

Senin, 06 Juli 2026 | 02:44:01 WIB
Ilustrasi KUR.

JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) konsisten memperkuat fungsi intermediasi perusahaan lewat dorongan penyaluran pembiayaan yang menyasar sektor produktif.

Sampai dengan periode Mei 2026, bank berstatus pelat merah ini sukses menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp84,36 triliun.

Angka realisasi tersebut setara dengan 46,87 persen dari total keseluruhan alokasi target penyaluran tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp180 triliun.

Tingkat penyaluran KUR tersebut sebagian besar didominasi oleh aliran pembiayaan menuju sektor produktif yang menyentuh porsi 67,18 persen dari total realisasi.

Sementara itu, bidang pertanian menjadi sektor penyerap dana terbesar dengan total nilai pembiayaan yang disalurkan mencapai angka Rp35,91 triliun.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi menjelaskan bahwa pihak perseroan akan terus menggulirkan agenda transformasi bisnis perusahaan ke depan.

Langkah tersebut bertumpu pada penguatan aspek fundamental, optimalisasi bisnis inti, serta proses pengembangan berbagai sumber pertumbuhan baru.

Menurut keterangan Hery, eksistensi Danantara menjadi sebuah momentum penting bagi BRI guna memperkuat kontribusi pada berbagai program strategis pemerintah.

Hal ini secara khusus mencakup upaya pemberdayaan skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Tanah Air.

"Kami ingin memastikan pertumbuhan Perseroan tidak hanya tercermin pada kinerja keuangan, tetapi juga pada kontribusi nyata BRI dalam pemberdayaan UMKM, penguatan ekonomi kerakyatan, dan penciptaan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat," ujar Hery dalam keterangan resminya, Senin (6/7/2026).

Sejalan dengan upaya transformasi tersebut, pencapaian kinerja BRI pada kuartal I tahun 2026 turut membuktikan adanya laju pertumbuhan yang positif.

Perseroan tercatat mampu membukukan perolehan laba bersih konsolidasian di angka Rp15,5 triliun, atau mengalami peningkatan sebesar 13,7 persen secara tahunan.

Dari aspek intermediasi, volume penyaluran kredit perusahaan menembus level Rp1.562 triliun, atau tumbuh sebesar 13,7 persen secara year-on-year (yoy).

Pada saat yang bersamaan, capaian himpunan dana pihak ketiga (DPK) merangkak naik 9,4 persen yoy hingga menyentuh angka Rp1.555 triliun.

Di sektor pendanaan, pihak BRI juga dinilai sukses memperbaiki kualitas struktur dana murah yang dikelola oleh perusahaan secara signifikan.

Hingga penutupan Maret 2026, dana murah (CASA) tercatat tumbuh 13,2 persen yoy menuju angka Rp1.058,6 triliun.

Pertumbuhan dana tersebut secara langsung turut mendongkrak persentase rasio CASA hingga naik menjadi 68,07 persen.

Kondisi fundamental pendanaan yang positif ini membuat beban biaya dana (cost of fund/CoF) sukses ditekan turun menjadi 2,3 persen.

Angka persentase beban tersebut jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sempat bertengger di level 3 persen.

Perseroan menyampaikan bahwa perbaikan struktur pendanaan tersebut disokong kuat oleh melonjaknya frekuensi transaksi via beragam kanal digital.

Kanal tersebut di antaranya meliputi layanan aplikasi BRImo, Qlola by BRI, fasilitas Business Merchant, hingga pemanfaatan transaksi QRIS BRI.

Tren penguatan dana murah tersebut diproyeksikan mampu menopang jalannya ekspansi pembiayaan secara jauh lebih efisien pada masa mendatang.

Di samping memperluas cakupan penyaluran KUR, BRI juga bertekad terus mengukuhkan ekosistem pemberdayaan bagi pelaku usaha mikro serta potensi desa.

Hingga saat ini, pihak perseroan tercatat telah menaungi serta membina sebanyak 5.245 Desa BRILiaN yang tersebar di berbagai wilayah.

Selain itu, layanan mereka juga telah merangkul 15,6 juta pengguna LinkUMKM serta mengembangkan lebih dari 43.000 klaster usaha produktif.

Pencapaian tersebut direalisasikan lewat program Klasterku Hidupku sebagai wujud komitmen nyata dalam meningkatkan kapasitas pelaku UMKM secara berkelanjutan.

Terkini