JAKARTA - Riset ilmiah mutakhir mengungkapkan bahwa varietas teh yang dimanfaatkan sebagai fondasi ramuan kombucha memegang andil besar dalam menentukan kadar antioksidan serta senyawa aktif berkhasiat di dalam produk minuman fermentasi itu.
Melansir rilis dari situs Eating Well, kajian ilmiah yang dimuat resmi lewat jurnal Food Chemistry menguraikan jika kombucha hasil olahan teh hijau serta teh oolong mampu menyuguhkan profil antioksidan dan senyawa bioaktif jauh lebih unggul ketimbang jenis teh lainnya.
Kolektif peneliti yang berasal dari Wroclaw University of Environmental and Life Sciences bersama pihak Wroclaw Medical University di Polandia melakukan komparasi terhadap kombucha yang diracik memakai lima varietas teh, yaitu teh hijau, teh hitam, teh putih, teh oolong, dan pu-erh.
Seluruh objek sampel tersebut melewati tahapan fermentasi menggunakan metode formula dan kondisi lingkungan yang seragam selama kurun waktu 10 hari. Para pakar kemudian memeriksa secara detail tiap sampel pada fase pra-fermentasi, hari kelima, hingga hari kesepuluh.
Konklusi riset memperlihatkan bahwa grafik proses fermentasi sebenarnya berjalan lewat pola yang relatif identik pada seluruh media teh. Kendati begitu, bahan baku utama teh tetap memberikan dampak signifikan terhadap akumulasi zat antioksidan pada produk kombucha akhir.
Secara umum, tingkat aktivitas antioksidan dari seluruh olahan kombucha mengalami akselerasi selama beberapa hari awal masa inkubasi dan menyentuh titik kulminasi pada hari kelima sebelum akhirnya berangsur konstan.
Dari total lima jenis varietas teh yang masuk dalam laboratorium pengujian, olahan kombucha dari basis teh oolong sukses menorehkan angka aktivitas antioksidan yang paling masif. Di kutub berbeda, ramuan kombucha dari bahan teh putih justru mencatatkan rekor aktivitas antioksidan paling minim.
Para ilmuwan turut mengidentifikasi bahwa racikan kombucha dengan bahan teh hijau mempertontonkan daya antiinflamasi paling agresif dalam uji coba laboratorium, sekaligus mengantongi indikator positif bagi optimalisasi kesehatan organ otak.
Sementara itu, untuk produk kombucha dengan basis olahan teh oolong justru menyuguhkan performa paling memuaskan pada parameter yang bersinggungan erat dengan sistem regulasi kadar gula darah.
Berpijak pada rentetan temuan riil tersebut, tim periset menyimpulkan bahwa komoditas teh hijau dan teh oolong merupakan opsi bahan baku terbaik untuk memproduksi kombucha dengan kepadatan senyawa berkhasiat paling melimpah.
Meski demikian, barisan peneliti memberikan catatan pengingat bahwa semua rangkaian eksperimen ini baru dilaksanakan di dalam ruang laboratorium memakai metode kultur sel dan tabung reaksi, belum diuji langsung pada organ tubuh manusia. Atas dasar itu, dampak positif yang serupa belum bisa dijamin mutlak bakal terjadi setelah cairan tersebut ditelan.
Di samping itu, hasil temuan ini ditegaskan hanya berlaku khusus untuk produk kombucha saja, bukan untuk segelas seduhan teh hijau ataupun teh oolong biasa yang dinikmati tanpa melewati proses fermentasi.
Pihak peneliti turut mengimbau bahwa konklusi riset ini berpotensi memunculkan diferensiasi jika disandingkan dengan produk kombucha kemasan komersial, mengingat produk di pasar ritel biasanya melewati rantai fermentasi dan tata cara penyimpanan yang kontras.
Bagi para konsumen yang punya rutinitas meminum kombucha, para ahli menyarankan untuk lebih jeli dalam mengidentifikasi jenis teh yang dipakai sebagai bahan baku dasar produk. Opsi kombucha dari teh hijau maupun teh oolong layak diprioritaskan jika orientasi utama Anda adalah memburu asupan antioksidan yang tinggi.
Namun, tim pakar tetap memberikan penekanan bahwa asupan kombucha bukan merupakan obat dewa tunggal dalam merawat kebugaran tubuh, sehingga wajib dikonsumsi sebagai pelengkap dari skema pola makan yang sehat dan berimbang.