JAKARTA - Harga emas dunia mengalami penurunan tajam hingga menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan. Pelemahan ini terjadi seiring aksi jual di pasar keuangan global dan meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.
Pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, harga emas ditutup di level US$4.262,52 per troy ons atau turun 1,53 persen. Penurunan tersebut memperpanjang tren negatif emas yang telah melemah selama tiga hari berturut-turut dengan akumulasi penurunan mencapai 4,7 persen.
Level penutupan tersebut menjadi yang terendah sejak 12 Desember 2025 dan sekaligus menjadi titik terendah sepanjang tahun 2026.
Pada perdagangan Rabu pagi, 10 Juni 2026, harga emas kembali melemah ke posisi US$4.255,28 per troy ons. Bahkan, harga emas spot sempat terkoreksi lebih dari 2 persen pada awal sesi perdagangan.
"Trader saat ini sedikit gugup. Hampir semua pasar masuk ke mode risk-off, dan itulah yang menekan harga emas," kata Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di RJO Futures.
Tekanan terhadap emas juga dipengaruhi pelemahan indeks saham utama Amerika Serikat, termasuk S&P 500 dan Nasdaq yang turun ke level terendah dalam lebih dari satu bulan.
Menurut Haberkorn, harga emas dan perak masih berpotensi berada dalam tekanan hingga pasar memperoleh kejelasan mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Perhatian investor kini tertuju pada data inflasi Amerika Serikat, yakni Consumer Price Index (CPI) Mei yang dirilis Rabu serta Producer Price Index (PPI) yang dijadwalkan terbit Kamis. Kedua data tersebut dinilai akan menjadi indikator penting bagi arah suku bunga ke depan.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 68 persen bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada Desember 2026.
Di sisi lain, harga minyak dunia juga mengalami penurunan setelah Iran dan Israel menyatakan menghentikan serangan satu sama lain menyusul seruan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sementara itu, kenaikan tarif impor emas di India dilaporkan kembali mendorong aktivitas penyelundupan emas. Volume penyelundupan bahkan diperkirakan dapat melampaui 100 ton sepanjang tahun ini seiring meningkatnya keuntungan di pasar gelap.