JAKARTA - Dinamika kehidupan bersosial beserta rentetan tuntutan peran sehari-hari kerap memberikan beban tekanan yang terhitung cukup masif bagi kondisi psikologis manusia.
Namun, agar interaksi dengan sesama tidak menjelma menjadi hulu stres pemicu penuaan dini, menetapkan batas pergaulan yang ideal amat diperlukan sebagai tameng proteksi diri.
"Aspek sosial itu yang sebenarnya perlu kami bangun terus, supaya kami punya healthy boundaries," kata psikolog klinis di Ibunda.id, Daniar Dhara Fainsya.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sesi diskusi bertajuk "Mental Health Sebagai Investasi Anti-aging Terbaik" di Ageless Festival, Pondok Indah Mall 3, Jakarta Selatan, Minggu 14 Juni 2026.
Melalui pemahaman itu, semakin intensif Anda berkomunikasi dengan orang lain, maka makin mendalam pula pengertian mengenai aspek mana saja yang harus dibatasi sebelum memicu beban pikiran.
Upaya merawat kebugaran mental sejatinya menuntut keselarasan dari empat tiang penyangga kehidupan secara menyeluruh tanpa memprioritaskan salah satu bagian saja.
Empat aspek krusial tersebut meliputi pilar biologis, psikologis, sosial, dan pilar spiritual, seperti yang dipaparkan oleh psikiater dr. Rayhan Maditra Indrayanto.
Menurut praktisi dari Siloam Specialist Center Senayan tersebut, pemulihan kesehatan jiwa tidak akan berjalan optimal andai seseorang cuma memfokuskan terapi pada perbaikan anatomi saraf di otak.
"Saya tidak percaya bahwa semua itu hanya di dalam otak kami," ucap dr. Rayhan.
Mengenai pilar sosial, kehadiran sistem pendukung dari lingkaran persahabatan yang saling percaya akan memicu organ tubuh memproduksi hormon oksitosin dalam skala yang masif.
Zat kimia tubuh yang populer dijuluki hormon cinta ini dilepaskan oleh pria maupun wanita saat mereka merasakan kehangatan emosional yang aman kala bersentuhan dengan individu lain.
"Oksitosin ini dibuktikan sangat berkorelasi, berhubungan dengan regulasi dari sistem fight or flight," papar dr. Rayhan.
Melonjaknya volume oksitosin di dalam tubuh dinilai sanggup menstabilkan laju pengatur kelenjar biologis atau HPA axis yang mengontrol respons bahaya agar tidak mengalami malafungsi.
Rayhan menambahkan bahwa pasokan hormon penenang ini efektif membantu meredakan letupan ketegangan saraf motorik, sebelum berujung pada kemunduran usia biologis manusia.
Memasuki fase usia produktif, akumulasi tanggung jawab yang diemban oleh tiap individu berpotensi berlipat ganda sekaligus bergesekan secara konstan.
Peran sosial itu berkembang mulai dari urusan asmara, hingga tuntutan mengemban kewajiban sebagai anak, cucu, hingga paman dan bibi di dalam silsilah kekerabatan.
Menghadapi rekam jejak tabiat buruk dari lingkungan keluarga sedarah disinyalir menguras energi emosional yang jauh lebih besar lantaran status hubungan tersebut sudah permanen.
"Itu kan kadang-kadang suka datang nih, klien-klien datang, 'Orangtua saya tuh toksik banget'," ungkap Daniar.
Guna mengantisipasi keletihan mental tersebut, Daniar mengarahkan para pasiennya untuk memetakan model ikatan kekeluargaan itu sebagai langkah awal guna memilah fleksibilitas hubungannya.
Ia menilai, seorang individu selamanya tidak akan pernah bisa memilih dari rahim ibu mana ia dilahirkan ke dunia.
Realitas objektif inilah yang membuat upaya penegasan batas personal dengan keluarga inti kerap menguras energi batin secara masif hingga menemui jalan buntu.
"Kalau kami memaksakan diri, 'Pokoknya boundaries kami harus seperti ini, orang lain juga harus menghormati'. Kalau dengan relasi yang memang tidak bisa dimodifikasi, memang agak challenging," terang Daniar.
Di sisi lain, lingkaran pertemanan serta relasi pacaran memberikan kebebasan mutlak bagi setiap individu untuk mematok barometer sikapnya sendiri tanpa perlu kompromi.
Ketidakmampuan memodifikasi batas personal dengan keluarga inti tidak jarang berujung pada rasa frustrasi mendalam yang memicu tumpukan stres.
Mengingat tidak seluruh relasi internal keluarga dapat ditata ulang secara sepihak, risiko benturan argumen atau perasaan tersinggung akibat ucapan kerabat tidak bisa dieliminasi total.
Untuk mengatasi kebuntuan tersebut sekaligus menangkal perselisihan bergeser ke arah fatal seperti melukai diri, metode terbaiknya adalah membaca sinyal fisik kala tekanan melanda.
"Apapun triggers itu, kami perlu mengenali dampak perubahan apa yang terjadi pada tubuh dan pikiran kami," ucap dr. Rayhan.
Saat gesekan opini pecah dengan anggota keluarga, sistem bawah sadar sejatinya bakal mengirimkan alarm fisik sebelum amarah melumpuhkan kesadaran logika di otak.
Pola napas yang mendadak sesak, detak nadi yang berdegup cepat, hingga kepala pening menjadi sinyal instan agar langkah kaki segera mundur guna menyudahi dialog.
Kejelian menangkap perubahan fisiologis ini memberikan jeda waktu bagi sistem saraf pusat untuk menahan laju luapan emosi yang destruktif.
Mengisolasi diri sejenak menjadi opsi penyelamatan paling realistis saat menghadapi orang terdekat yang retorika bicaranya berada di luar kendali personal.
"Cepat untuk mengambil langkah supaya bisa do something sebelum kami beneran melakukan hal yang akan kami sesali. Jangan sampai perbuatan kami itu akan membuat dampak yang permanen," pungkas dr. Rayhan.