Rekor Kursi Kosong Terbanyak Terjadi pada Laga Belanda vs Jepang

Rekor Kursi Kosong Terbanyak Terjadi pada Laga Belanda vs Jepang
Belanda vs Jepang.

JAKARTA - Otoritas tertinggi sepak bola dunia, FIFA, tengah berupaya keras mencari jalan keluar yang tepat demi mengatasi masalah maraknya kursi kosong yang mewarnai jalannya pertandingan Piala Dunia 2026.

Satu di antara fenomena sepi penonton tersebut terpantau nyata dalam laga sengit di Grup F yang mempertemukan kesebelasan Belanda kontra Jepang di AT&T Stadium, Dallas.

Sejak awal, bentrokan kedua tim papan atas di stadion megah ini sejatinya diproyeksikan bakal menjadi studi kasus menarik guna mengukur tingkat kehadiran publik di stadion.

Sejumlah faktor strategis dinilai menjadi modal kuat untuk memadati stadion, mulai dari kapasitas tampung arena yang masif hingga tingginya animo masyarakat lokal terhadap olahraga.

Fasilitas penerbangan internasional yang mumpuni menuju lokasi juga diharapkan mampu menghadirkan atmosfer pertandingan yang meriah dan riuh.

Kendati demikian, ekspektasi besar tersebut justru gagal menjadi kenyataan ketika pertandingan perdana kedua tim resmi digulirkan.

Sektor tribune atas memang tampak didominasi oleh kehadiran suporter hingga memicu gemuruh suara yang cukup bising.

Namun, pemandangan kontras terlihat jelas ketika memperhatikan area VIP mewah yang terletak tepat di belakang masing-masing gawang.

Pada ajang kompetisi NFL, sektor yang berada sedikit di atas permukaan lapangan tersebut merupakan fasilitas eksklusif berbayar mahal yang dikenal sebagai touchdown suites.

Ketika upacara seremonial pembukaan laga Belanda melawan Jepang dimulai, area touchdown suites tersebut terpantau dalam kondisi yang nyaris melompong.

Tiket untuk area hospitality ini memang sengaja tidak dilepas secara bebas kepada masyarakat umum, namun rincian nominal tarifnya hanya dibuka bagi pihak yang mengajukan permintaan khusus.

Kondisi sepi tersebut terus bertahan pada menit-menit awal babak pertama sebelum akhirnya dilaporkan tiba-tiba terisi penuh setelah laga bergulir sepuluh menit.

Uniknya, deretan bangku VIP tersebut bukan ditempati oleh kelompok suporter yang membeli tiket resmi, melainkan gerombolan relawan yang mengenakan rompi hijau neon.

Sebagian besar blok tempat duduk mewah di kedua sisi lapangan itu pada akhirnya dialokasikan bagi para pekerja sukarela yang bertugas selama turnamen berlangsung.

“Para relawan FIFA di dalam stadion mengatakan bahwa mereka yang membantu upacara pra-pertandingan diizinkan menempati kursi-kursi hospitality yang tidak terjual sebagai bentuk “hadiah” atau apresiasi,” bunyi laporan The Athletic.

Sejumlah narasumber yang memahami persoalan ini membenarkan bahwa fasilitas ruang premium tersebut memang gagal menjaring minat para kaum kaya.

Dari total 14 unit suite eksklusif yang disediakan oleh panitia penyelenggara, tercatat hanya ada tiga unit saja yang sukses dilepas ke pasaran.

Salah satu alasan logis di balik minimnya okupansi kursi VIP tersebut disinyalir kuat berkaitan erat dengan struktur arsitektur stadion yang tergolong unik.

Permukaan lapangan di AT&T Stadium sengaja dinaikkan sekitar 1,2 meter agar dapat mengakomodasi standar ukuran pertandingan sepak bola internasional.

“Itu dilakukan agar dapat mengakomodasi lapangan sepak bola. Akibatnya, jaring pengaman, fotografer, dan kamera berada lebih sejajar dengan garis pandang penonton dibandingkan dengan konfigurasi yang biasa digunakan untuk pertandingan sepak bola Amerika,” tulis The Athletic.

Selain kendala jarak pandang penonton, faktor harga sewa suite yang terlampau tinggi ditengarai menjadi penyebab utama lesunya penjualan tiket premium tersebut.

Berdasarkan data yang dirilis, angka kehadiran penonton resmi yang diumumkan dalam pertandingan itu menyentuh jumlah 69.285 orang.

Hal itu berarti terdapat sisa sebanyak 1.364 kursi kosong yang tidak terisi, sekaligus menjadi rekor sisa kursi terbanyak sepanjang pergelaran Piala Dunia 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index