Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah Menuju 17.800 per Dolar AS

Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah Menuju 17.800 per Dolar AS
Ilustrasi Rupiah dan Dollar.

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah diproyeksikan mengalami pelemahan di kisaran rentang Rp17.800 sampai Rp17.850 per dolar AS pada aktivitas perdagangan hari ini.

Merujuk pada publikasi data RTI Infokom, kurs rupiah sebelumnya sempat ditutup menguat sebesar 0,24 persen ke posisi Rp17.797 per dolar AS pada sesi transaksi Jumat (19/6/2026).

Sementara itu, pergerakan sejumlah mata uang di kawasan Asia Pasifik terpantau ditutup bervariasi, seperti yuan China yang terdepresiasi 0,32 persen dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen.

Di sisi lain, mata uang yen Jepang dilaporkan menguat 0,06 persen, won Korea Selatan menanjak 0,68 persen, dolar Singapura melemah 0,09 persen, baht Thailand turun 0,18 persen, serta dolar Taiwan terkoreksi 0,02 persen.

Pengamat pasar mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai iklim pasar global mengalami perbaikan nyata pasca-tercapainya kesepakatan damai temporer antara pihak AS dan Iran.

Langkah taktis tersebut digulirkan demi menyudahi ketegangan sekaligus memulihkan kelancaran jalur pelayaran niaga di kawasan Selat Hormuz yang menjadi rute vital pengiriman minyak bumi dunia.

Kesepakatan bilateral ini memicu ekspektasi positif bahwa jutaan barel pasokan minyak mentah yang sempat tertahan bakal kembali mengalir ke pasar internasional dalam beberapa waktu ke depan.

Otoritas AS mengonfirmasi telah membuka kembali blokade ekonomi terhadap pihak Iran seiring berjalannya implementasi kesepakatan damai sementara tersebut.

Berdasarkan laporan di lapangan, barisan kapal tanker yang mengangkut komoditas minyak mentah mulai bergerak keluar meninggalkan kawasan Selat Hormuz sejak hari Kamis lalu.

Dari lanskap kebijakan luar negeri, sebanyak sembilan dari total 19 pejabat bank sentral AS atau The Fed memperkirakan bakal ada satu kali lagi agenda kenaikan suku bunga acuan di akhir tahun ini.

Kondisi tersebut mempertebal estimasi pasar bahwa tingkat suku bunga pinjaman global berpotensi bertahan di level tinggi dalam kurun waktu yang relatif lebih lama.

Walau The Fed menahan suku bunga pada level tetap, pernyataan Ketua Kevin Warsh dibaca pasar sebagai sinyal agresif, sehingga memicu lonjakan imbal hasil obligasi dan melambungkan dolar AS ke posisi terkuatnya dalam setahun.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyebutkan sentimen krusial datang dari pengumuman lembaga Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait peringkat kriteria arus informasi bursa saham.

Lembaga internasional tersebut merubah rapor penilaian kriteria arus informasi (information flow) Indonesia menjadi negatif di dalam dokumen laporan 2026 Global Market Accessibility Review.

Keputusan penurunan predikat ini dipicu oleh kekhawatiran berkepala dari MSCI atas aspek transparansi susunan kepemilikan saham serta adanya indikasi aktivitas perdagangan semu di pasar modal domestik.

Kendati demikian, pihak MSCI memastikan posisi Indonesia tetap bertahan di level negara berkembang (Emerging Market) berkat adanya poin keunggulan pada aspek keterbukaan pasar.

Pertimbangan bertahannya Indonesia di kelas negara berkembang ini sukses meredam kekhawatiran pelaku pasar dan mengembalikan optimisme terkait potensi masuknya kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

Memasuki sore hari pukul 15.10 WIB, mata uang rupiah dilaporkan resmi ditutup melemah sebesar 0,22 persen atau terpangkas 39 poin ke level Rp17.843 per dolar AS.

Pada saat yang bersamaan, posisi pergerakan indeks dolar AS (DXY) terpantau bergerak menguat sebesar 0,14 persen menuju ke posisi 100,98.

Sebelumnya pada perdagangan siang hari pukul 12.30 WIB, nilai tukar rupiah sempat menguat tipis sebesar 0,01 persen atau naik 1 poin ke posisi Rp17.820 per dolar AS berdasarkan data TradingView.

Sedangkan pada sesi pembukaan pagi hari pukul 09.31 WIB, mata uang rupiah mengawali hari dengan koreksi tipis sebesar 0,05 persen atau turun 9 poin ke level Rp17.813 per dolar AS dengan indeks dolar AS flat di 100,84.

Kondisi penurunan ini sejalan dengan mayoritas kurs Asia yang dibuka melemah, di mana yen Jepang turun 0,16 persen, won Korea Selatan jatuh 0,43 persen, ringgit Malaysia anjlok 0,24 persen, dan yuan China melemah 0,05 persen.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index