Program Ayah Idaman Dorong Peran Suami dalam Pemilihan KB

Program Ayah Idaman Dorong Peran Suami dalam Pemilihan KB
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN merilis Program Kelas Ayah Idaman yang dirancang untuk mendorong suami ikut andil secara aktif dalam menentukan opsi kontrasepsi atau KB bagi keluarga.

"Program ini dikembangkan sebagai upaya menghadirkan ayah sebagai bagian penting dalam mendukung kesehatan ibu, kesehatan bayi, dan keberhasilan pelayanan KB pascapersalinan," kata Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) Wahidin saat mewakili Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji.

Pernyataan tersebut diutarakan dalam agenda kick off Kelas Ayah Idaman di Jakarta, Rabu, yang diproyeksikan menjadi wadah belajar bagi para ayah maupun calon ayah guna memperoleh pengertian yang tepat mengenai kegunaan KB pascapersalinan, alternatif metode kontrasepsi, periode pelayanan, serta urgensi mendampingi istri dalam tahapan konseling.

"Selain itu, sebagai cara membangun komunikasi yang baik dengan pasangan saat pengambilan keputusan, serta memperkuat dukungan terhadap pelayanan KB pascapersalinan," ujar dia.

Wahidin mengimbuhkan, Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) yang beroperasi di bermacam daerah Indonesia disiapkan sebagai tempat penyelenggaraan Kelas Ayah Idaman.

 Maka dari itu, pada tahun ini Kemendukbangga/BKKBN terus memperkukuh penerapan program itu lewat 1.000 TPMB di pelbagai kabupaten/kota.

"TPMB ini dipilih karena merupakan fasilitas pelayanan yang paling dekat dengan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, serta keluarganya. Melalui kolaborasi bidan, penyuluh KB, pemerintah daerah, serta berbagai mitra pembangunan keluarga, kami berharap semakin banyak keluarga yang memperoleh informasi yang benar dan pelayanan yang berkualitas," paparnya.

Ia menandaskan, indikator Kelas Ayah Idaman bukan cuma ditakar dari total kelas yang diwujudkan atau melonjaknya capaian pelayanan KB pascapersalinan, namun yang paling esensial ialah kian meluasnya jumlah keluarga yang sanggup menetapkan keputusan secara tepat menyangkut kesehatan reproduksi serta perencanaan keluarga.

Mengacu pada Pendataan Keluarga tahun 2025, eskalasi keterlibatan suami beserta keluarga menjadi faktor penentu krusial dalam menekan angka kebutuhan ber-KB yang belum terpenuhi (unmet need) sebesar 12,2 persen.

Kenyataan itu dikuatkan oleh Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2023 yang memperlihatkan bahwa 27,7 persen wanita yang tidak memanfaatkan kontrasepsi usai melahirkan menyatakan salah satu pemicunya lantaran belum memperoleh persetujuan dari suami atau keluarganya.

"Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pelayanan KB, khususnya KB pascapersalinan, tidak hanya ditentukan oleh akses dan kualitas layanan kesehatan, tetapi juga oleh dukungan keluarga, terutama keterlibatan suami dalam pengambilan keputusan. 

Oleh karena itu, melakukan edukasi kepada ibu saja tidak cukup," ucap Wahidin.

Ia menegaskan, semua elemen wajib bekerja sama demi menjamin suami memahami informasi yang tepat mengenai KB, mengerti risiko kehamilan yang jaraknya terlampau rapat, serta mengerti bahwa mengontrol jarak persalinan bukan sekadar urusan kenyamanan domestik semata, melainkan juga perkara keselamatan bagi ibu dan bayi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index