JAKARTA - Jaringan tulang dan persendian pada tubuh anak akan terus mengalami proses pertumbuhan sekaligus pembentukan sampai mereka menginjak usia dewasa.
Sepanjang periode emas ini, tingkat kualitas dari pertumbuhan sistem rangka anak sangat dipengaruhi oleh aneka macam faktor, mulai dari pasokan zat nutrisi, intensitas aktivitas fisik, hingga pola kebiasaan sehari-hari.
Lantaran masih berada dalam fase perkembangan yang intens, kondisi tulang serta sendi anak menjadi jauh lebih rentan terkena gangguan apabila terus-menerus memikul beban atau tekanan yang tidak proporsional.
Dokter spesialis ortopedi memaparkan bahwa sejumlah pola kebiasaan yang terkesan remeh ternyata sanggup mengancam kesehatan sistem rangka anak bila dikerjakan secara berulang dengan metode yang keliru.
Oleh karena itu, terdapat beberapa poin kebiasaan mendasar yang wajib mendapatkan perhatian ekstra dari kalangan orang tua demi melindungi tumbuh kembang anak.
Poin pertama yang disoroti adalah perihal pengoperasian alat bantu jalan berupa baby walker untuk anak bayi.
Spesialis Ortopedi Divisi Anak dari Eka Hospital Cibubur dr. Gabriel Klemens Wienanda, M.Ked(Surg), Sp.OT, AIFO-K memaparkan, fase tumbuh kembang tulang anak mempunyai tahapan alamiah yang idealnya tidak dipaksa melaju lebih cepat ataupun diintervensi secara berlebihan.
Tahapan tersebut bergulir mulai dari fase merangkak, belajar berdiri tegak sembari berpegangan pada benda sekitar, hingga akhirnya anak mampu melangkah berjalan sendiri secara mandiri di kisaran usia 11 sampai 12 bulan.
Keseluruhan rangkaian proses motorik tersebut dipastikan bakal berjalan dengan sendirinya tanpa perlu dipacu menggunakan alat bantu mekanis.
"Anak akan bisa melakukannya. Enggak perlu bantuan orang tua, enggak perlu bantuan baby walker," tutur dr. Gabriel.
Manakala anak dipaksa untuk bisa berjalan sebelum sistem struktur tulang dan persendiannya siap menopang bobot tubuh, maka tingkat risiko terjadinya gangguan pertumbuhan akan melonjak tajam, terlebih pada anak bertubuh tambun.
Menurut analisisnya, memaksakan anak untuk berjalan di bawah usia 12 bulan berpotensi besar memicu kelainan bentuk pada bagian tungkai bawah, seperti kondisi kaki yang membengkok menyerupai huruf O (Blount disease).
Apabila kelainan fisik semacam ini sudah terlanjur terjadi, maka kerusakan struktur tersebut dipastikan tidak akan bisa kembali normal dengan sendirinya.
"Risikonya adalah kakinya bengkok. Apalagi kalau anaknya gemuk," ujar dr. Gabriel.
Bukan cuma mendatangkan tekanan berat pada sistem rangka yang masih muda, pemakaian baby walker juga dinilai merugikan karena dapat mengacaukan proses alami anak dalam belajar berjalan.
Anak-anak yang sudah terbiasa diletakkan di dalam baby walker memiliki kecenderungan berjalan dengan posisi kaki menjinjit (tiptoe) lantaran bagian telapak kaki mereka tidak dilatih untuk menapak tanah secara utuh.
"Kalau anak yang pakai baby walker, dia tidak punya sensorik-motorik untuk berjalan menapak, dia akan berjinjit, sehingga proses dia untuk jalan biasa prosesnya cukup panjang," tuturnya.
Untuk proyeksi jangka panjang, kondisi otot-otot tertentu pada kaki berisiko tumbuh menjadi lebih dominan sehingga mengubah anatomi pola berjalan anak secara permanen.
Dampak negatif yang paling kerap dikeluhkan dari fenomena ini adalah anak menjadi jauh lebih mudah tersandung atau terjatuh sendiri sewaktu berlari jika dibandingkan dengan teman-teman sejawatnya.
Selain problem baby walker, dr. Gabriel juga memberikan sorotan tajam mengenai urgensi pemilihan alat gendongan bayi dengan posisi anatomi yang tepat.
Ia menguraikan bahwa anak bayi idealnya digendong dengan menerapkan metode posisi M-shape, yaitu sebuah kondisi di mana lutut anak berada pada posisi yang lebih tinggi ketimbang bagian bokongnya, sehingga area panggul terbuka lebar membentuk pola huruf M.
Setelan posisi tersebut merupakan zona paling aman bagi ekosistem sendi panggul bayi karena terbukti tidak menyalurkan beban tekanan berlebih pada bagian tubuh yang masih berkembang.
Ia menjelaskan, posisi kaki bayi yang dipaksa terlalu lurus atau dibiarkan menjuntai menggantung dalam durasi lama bisa memperbesar risiko kelainan perkembangan sendi panggul atau developmental dysplasia of the hip (DDH), terutama jika menjadi kebiasaan menahun.
Meski demikian, ia memberikan catatan penjelas bahwa gendongan dengan model tipe M-shape ini umumnya baru aman diaplikasikan tatkala otot leher bayi sudah kuat menopang kepala serta mampu duduk stabil.
Pola kebiasaan konvensional lain yang sampai saat ini masih kerap dijumpai di tengah masyarakat ialah tindakan membedong bayi dengan meluruskan kaki secara paksa lalu mengikatnya dengan kencang.
Terkait hal ini, dr. Gabriel memberikan peringatan keras kepada kalangan orang tua agar tidak serta-merta mengekor tradisi kuno tanpa memahami landasan ilmiah dan medis di baliknya.
Menurut pandangan dr. Gabriel, esensi utama dari aktivitas membedong bayi sejatinya bukan bertujuan untuk meluruskan struktur kaki, melainkan murni untuk menyalurkan efek rasa hangat sekaligus menstimulasi bayi agar mudah beradaptasi dengan lingkungan baru pascalahir.
"Kalau mau bedong, bedongnya yang atasnya dibedong, bawahnya longgar," pungkas dr. Gabriel.
Ia menambahkan bahwa membedong dengan memaksakan posisi kaki lurus kencang justru berpeluang besar merusak perkembangan sendi panggul bayi.
Atas dasar itulah, pastikan bagian kaki bayi tetap diberikan ruang longgar yang cukup agar bisa bergerak bebas secara aktif sehingga posisi panggul tetap berada pada jalur alaminya.