JAKARTA - Memilih produk nutrisi untuk anak sebaiknya tidak hanya didasarkan pada klaim yang tertulis di bagian depan kemasan.
Dokter spesialis anak mengingatkan, orangtua perlu membiasakan diri membaca daftar komposisi agar dapat memahami bahan utama dan kandungan produk secara menyeluruh.
Pesan tersebut disampaikan Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang–Pediatri Sosial, dalam siaran pers, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, kebiasaan memeriksa komposisi merupakan langkah sederhana untuk membantu orangtua memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Prof. Rini menjelaskan, pemenuhan nutrisi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya asupan, tetapi juga kualitas serta keseimbangan zat gizi sejak dini.
"Klaim dan kandungan tambahan yang ditampilkan pada kemasan sering kali hanya menggambarkan sebagian kecil dari keseluruhan produk. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya berfokus pada informasi yang ada di bagian depan kemasan, tetapi juga membaca dengan cermat dan memahami komposisi utama produk tersebut," ujar Prof. Rini.
Perhatian terhadap kualitas nutrisi sangat krusial terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Masa ini adalah periode penting bagi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta pembentukan sistem kekebalan tubuh anak.
Pada fase tersebut, anak membutuhkan kombinasi zat gizi seimbang, mulai dari energi, protein, lemak esensial, zat besi, hingga vitamin.
Agar tidak bingung, Prof. Rini menyarankan orangtua untuk melihat bahan yang tercantum pada urutan paling awal dalam daftar komposisi, karena bahan tersebut umumnya adalah komponen paling dominan.
Selain itu, orangtua dianjurkan memperhatikan jenis bahan utama, sumber bahan, serta proses pengolahannya.
Orangtua juga perlu mengenali berbagai nama gula tambahan seperti sukrosa, glukosa, fruktosa, sirup jagung, atau maltodekstrin yang berbeda dari laktosa alami susu.
Selain komposisi, tabel informasi nilai gizi wajib dibaca bersamaan untuk mengetahui kandungan energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral.
Prof. Rini mengingatkan bahwa paparan gula tambahan perlu dikelola bijak agar tidak memengaruhi preferensi rasa anak terhadap makanan alami seperti sayur dan buah.
"Nutrisi terbaik bagi anak tetap perlu dibangun melalui variasi makanan, pola makan seimbang, dan lingkungan makan yang tepat," ujarnya.
Ia menekankan bahwa Air Susu Ibu (ASI) tetap menjadi sumber nutrisi terbaik bagi bayi, dan penggunaan produk tambahan sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan.