JAKARTA - Banyak individu rutin meminum suplemen harian dengan tujuan meningkatkan kebugaran, menjaga imunitas, hingga merawat kesehatan kulit. Namun, sejumlah pakar mengingatkan bahwa asupan tambahan ini tidak melulu dibutuhkan dan metode konsumsinya wajib dicermati agar khasiatnya terserap maksimal.
Kebutuhan nutrisi tambahan setiap orang tidaklah sama, seperti yang diutarakan ahli gizi terdaftar Andy De Santis dan pakar nutrisi Ciara Foy. Seseorang disarankan berkonsultasi dengan dokter atau menjalani cek laboratorium terlebih dahulu sebelum memutuskan mengonsumsi suplemen secara rutin demi memastikan adanya defisiensi zat gizi.
"Sebaiknya jangan mengonsumsi suplemen yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Usahakan memenuhi vitamin dan nutrisi penting dari makanan terlebih dahulu,” jelas De Santis, seperti disadur Best Health, Senin (6/7/2026).
Selain produk tersebut, asam folat sering kali dianjurkan bagi wanita yang tengah merencanakan kehamilan atau berpotensi mengandung. Zat gizi ini memiliki peran krusial dalam menekan risiko terjadinya cacat tabung saraf pada bakal janin.
Di sisi lain, kandungan omega-3 sangat baik untuk memelihara kesehatan organ jantung, otak, sekaligus meminimalkan ancaman rupa-rupa penyakit kronis. Sayangnya, pemenuhan nutrisi ini dari menu harian kerap kali belum mencukupi bagi sebagian orang.
Foy menerangkan bahwa kandungan omega-3 rentan mengalami kerusakan akibat paparan suhu panas, cahaya, serta oksigen. Oleh sebab itu, minyak ikan berwujud kapsul dapat dijadikan opsi pengganti bagi mereka yang jarang memakan ikan berlemak, dengan anjuran konsumsi dua kali sehari serta disimpan di kulkas.
Walaupun sangat populer di pasaran, produk multivitamin nyatanya tidak wajib ditelan setiap hari. De Santis justru mengimbau masyarakat untuk membenahi kualitas menu makanan harian terlebih dahulu sebelum menggantungkan diri pada produk multivitamin.
"Saya tidak merekomendasikan multivitamin secara sembarangan. Saya lebih memilih klien memperbaiki pola makan terlebih dahulu, lalu mempertimbangkan suplemen jika memang diperlukan," saran De Santis.
Di samping itu, Foy mengaku umumnya hanya memberikan rekomendasi penggunaan multivitamin khusus bagi kalangan ibu hamil atau menyusui.
Asupan zat besi memang tergolong krusial, tetapi kelebihan dosis justru dapat memicu bahaya bagi tubuh. Meminum suplemen zat besi secara sembarangan tanpa pemantauan medis bisa meningkatkan risiko keracunan yang merusak saluran pencernaan, organ hati, hingga otak.
Apabila hasil pemeriksaan medis mengonfirmasi adanya kekurangan zat besi, dokter umumnya memberikan suplemen khusus. Pasien juga akan diminta menjauhi konsumsi kopi saat meminumnya karena dapat merusak proses penyerapan, berbeda dengan vitamin C yang justru membantu penyerapan.
Menurut pandangan De Santis, konsumsi buah dan sayur harian sebenarnya sudah cukup memenuhi kebutuhan vitamin C standar bagi mayoritas orang. Namun jika memang memerlukan asupan suplemen vitamin C tambahan, waktu paling ideal untuk meminumnya adalah pada pagi hari.
Sementara itu, Foy memberikan peringatan agar penggunaan melatonin tidak dilakukan dalam jangka waktu panjang. Waktu konsumsi melatonin yang disarankan adalah pada malam hari atau berjarak sekitar 2 jam sebelum memejamkan mata.
"Tubuh sebenarnya mampu memproduksi melatonin sendiri. Karena itu, yang perlu dilakukan adalah menciptakan kondisi agar tubuh dapat memproduksinya secara alami," katanya.
Foy menganjurkan untuk senantiasa menjaga kedisiplinan jam tidur, aktif berolahraga, serta membatasi pemakaian gawai menjelang istirahat malam demi menjaga kestabilan produksi melatonin alami tubuh.
Efektivitas suplemen sangat dipengaruhi oleh ketepatan cara mengonsumsinya. Foy memberikan saran agar mayoritas suplemen diminum pagi hari, khususnya vitamin D dan vitamin B kompleks yang berperan dalam menyuplai energi tubuh.
Untuk omega-3, waktu konsumsi terbaik adalah dua kali sehari pada pagi dan malam hari bersamaan dengan makanan. Masyarakat juga diminta selalu membaca instruksi di kemasan karena mayoritas suplemen bekerja optimal setelah perut terisi makanan.
Para pakar menegaskan bahwa suplemen bukanlah opsi pengganti pola makan sehat. Hidangan bergizi seimbang tetap memegang peran sebagai sumber vitamin utama, sedangkan suplemen hanya digunakan jika mendesak dan berdasarkan anjuran petugas kesehatan.