Trump Klaim Sudah Bicara Langsung dengan Iran, Teheran Bantah Ada Negosiasi

Trump Klaim Sudah Bicara Langsung dengan Iran, Teheran Bantah Ada Negosiasi

GARISBERITA.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington "mendekati akhir" perang dengan Iran dan mengklaim telah berbicara langsung dengan pejabat Teheran. Klaim itu muncul saat konflik meluas ke Yaman dan harga minyak dunia menembus USD 100 per barel. Teheran belum mengonfirmasi adanya negosiasi langsung dengan Washington.

Pernyataan Trump disampaikan kepada wartawan di Gedung Putih. Ia menyebut pihak Iran ingin membuat kesepakatan dan Washington akan melihat bagaimana proses itu berjalan. Menurut Trump, ia telah mendengar langsung dari pihak Iran.

Klaim komunikasi langsung itu penting karena perundingan Washington-Teheran selama ini bergantung pada perantara, termasuk Qatar, Pakistan, dan Oman. Trump pernah beberapa kali mengklaim hal serupa sebelumnya.

Pernyataan Trump dan Sinyal Campuran ke Teheran

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan Amerika "mendekati akhir perang". Ia juga menyebut Iran "ingin membuat kesepakatan, dengan cepat dan sangat ingin".

Namun Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menuduh Trump mengirim "sinyal campuran". Ia menegaskan tidak akan ada pembicaraan sampai syarat-syarat Iran dipenuhi.

Teheran, yang secara efektif menutup Selat Hormuz, menuntut Amerika menghormati ketentuan kesepakatan yang ditandatangani pada Juni. Selat itu dilintasi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.

Mantan Diplomat Iran: Tidak Ada Upaya Baru

Mantan diplomat Iran, Abbas Khameyar, meragukan klaim Trump. Menurut dia, tidak ada upaya tambahan di luar apa yang sudah berjalan dalam beberapa pekan terakhir.

"Saya tidak berpikir ada upaya tambahan di luar apa yang sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir," kata Khameyar kepada Al Jazeera.

Ia menyebut ada narasi Amerika yang menyatakan Iran menelepon dan memohon pertemuan. Khameyar menilai tidak ada pihak yang mempercayai hal itu dan situasinya tidak berjalan seperti yang digambarkan.

Aktivitas diplomasi Iran, menurut dia, belum bergerak melampaui kerangka yang sudah ada. Fokusnya adalah memastikan penegakan nota kesepahaman yang telah ditandatangani, bukan membuka perundingan baru.

Diplomasi lewat Beijing dan Islamabad

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan panggilan telepon dengan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Field Marshal Asim Munir. Munir memimpin upaya mediasi antara Washington dan Teheran.

Panggilan itu berlangsung saat Araghchi masih berada di Beijing. Keduanya membahas perkembangan kawasan terbaru dan isu-isu yang menjadi kepentingan bersama.

Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyerukan Amerika dan Iran menahan diri. Ia juga mendesak Selat Hormuz dibuka kembali sesegera mungkin setelah bertemu Araghchi di Beijing.

Araghchi menyatakan Teheran menginginkan pemulihan ketenangan di kawasan dan hubungan yang bersahabat dengan negara-negara tetangga. Ia menyebut Iran telah memulai dialog dengan negara-negara di kawasan.

Dalam unggahan di X, Araghchi menyebut konsultasi dengan pejabat China berhasil. Ia menilai keputusan hari ini akan menentukan keseimbangan strategis kawasan di masa depan.

Posisi China dan Tekanan Pasar Energi

China menghindari keterlibatan langsung dalam perang. Namun Presiden Xi Jinping, dalam KTT BRICS di New Delhi akhir pekan lalu, menawarkan kesediaan Beijing berperan dalam upaya perdamaian.

Huiyao Wang, presiden lembaga pemikir Center for China and Globalization di Beijing, menilai peran China dalam urusan internasional makin penting di tengah gejolak geopolitik saat ini.

"China memiliki peran besar yang bisa dijalankan jika diperlukan. Fakta bahwa kedua pihak yang berkonflik belum melihat ujungnya menunjukkan kebutuhan akan penjamin besar untuk masuk," kata Wang kepada Al Jazeera.

Menurut Wang, Amerika ingin mengakhiri perang ini dan juga membutuhkan bantuan China. Sementara itu, media Amerika Axios melaporkan Trump diperkirakan bertemu para pemimpin Teluk di sela-sela Sidang Umum PBB.

Konflik yang meluas ke Yaman menambah tekanan pada pasokan energi global. Houthi yang terkait Iran dilaporkan merusak instalasi minyak Arab Saudi di tengah pertempuran yang kembali memanas.

Harga minyak menembus USD 100 per barel pekan lalu dan terus naik. Blokade Selat Hormuz oleh Iran menjadi faktor utama yang menekan pasar energi dunia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index