GARISBERITA.ID — Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan dari 1% menjadi 1,25%, level tertinggi dalam 31 tahun terakhir. Keputusan ini diambil untuk menahan lonjakan inflasi global yang dipicu perang di Iran. Dua anggota dewan bank sentral menolak kenaikan tersebut.
Langkah BoJ mengikuti jejak Federal Reserve Amerika Serikat dan Bank Sentral Eropa yang lebih dulu memperketat kebijakan moneter bulan ini. Ketiga bank sentral berupaya meredam dampak kenaikan harga barang yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah.
Keputusan tersebut tidak bulat. Dua anggota dewan BoJ memberikan suara menolak kenaikan suku bunga.
Alasan BoJ Menaikkan Suku Bunga
BoJ telah menaikkan suku bunga secara bertahap sejak 2024, ketika bank sentral ini mengeluarkan kebijakan suku bunga dari wilayah negatif. Tekanan untuk menaikkan biaya pinjaman semakin besar seiring melemahnya yen terhadap dolar AS sepanjang tahun ini.
Pelemahan yen sempat memaksa pembuat kebijakan melakukan intervensi untuk menstabilkan mata uang. Pada perdagangan Jumat, yen melemah sekitar 0,7% terhadap dolar AS.
Fred Neumann, kepala ekonom Asia di HSBC, menilai nada pernyataan BoJ dan adanya dua suara penolak menimbulkan keraguan soal seberapa agresif bank sentral Jepang akan memperketat kebijakan.
"Sementara kenaikan berturut-turut tampaknya tidak mungkin, investor akan mencari petunjuk apakah pejabat siap menaikkan suku bunga lagi pada Desember," ujar Neumann.
Respons Pasar Keuangan Jepang
Pelemahan yen mendorong indeks saham Nikkei naik hampir 2%. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor dua tahun, yang paling sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter, turun empat basis poin menjadi 1,82%.
Futures saham Eropa turun 0,35%, mengindikasikan pembukaan yang lebih rendah. Harga minyak mentah Brent juga turun hingga 1,5% ke USD 103,29 per barel.
Penurunan minyak terjadi di tengah harapan pasokan alternatif dari Timur Tengah bisa mencapai pasar. Meski begitu, kekhawatiran soal serangan antara Arab Saudi dan Houthi Yaman masih membayangi.
Proyeksi Suku Bunga ke Depan
Prashant Newnaha, strategi senior suku bunga di TD Securities, menyatakan BoJ mengulangi kekhawatiran bahwa inflasi dasar bisa menyimpang ke atas dari target 2%. Namun ia menilai tidak ada indikasi kuat yang mendukung kenaikan berturut-turut pada Oktober.
"Kami tetap pada perkiraan kenaikan suku bunga sekitar setiap kuartal dengan kenaikan 25 basis poin berikutnya pada Desember," kata Newnaha.
Bank of England pada Kamis memilih menahan suku bunga Inggris di level 3,75%. Namun bank sentral Inggris memperingatkan suku bunga bisa segera naik akibat dampak perang Iran.
Kenaikan suku bunga BoJ menjadi sinyal bahwa bank sentral utama dunia masih berada dalam fase pengetatan moneter. Pasar akan mencermati data inflasi Jepang dan pernyataan pejabat BoJ berikutnya untuk memastikan arah kebijakan kuartal keempat.